Keunikan Kampung Batik Semarang

Kota Semarang yang kita kenal dengan kota metropolitan, ternyata memiliki sebuah Kampung Batik Semarang.

Kampung Batik Semarang merupakan salah satu kampung di Kota Semarang yang unik dan menarik yang selalu dikaitkan dengan batik Semarang sejak zaman dulu hingga sekarang.

Kampung Batik Semarang ini letaknya ada di seputar daerah Bubagan Semarang.

Kampung Batik Semarang

Kampung Batik Semarang
Kampung Batik Semarang

Batik yang terkenal di kampung ini berciri khas Kota Semarang, seperti gambar Pohon Asem, Tugu Muda dan Lawang Sewu. Pemahaman ini hampir 95% orang mengetahui akan hal itu.

Namun, pada pemahaman yang lebih luas lagi batik Semarang bukan hanya pada gambar tersebut. Karena pada dasarnya khasanah batik Semarang lebih mempunyai khasanah yang lebih luas dan luar biasa yang terkandung di dalamnya.

Awal mula Batik Semarang muncul sekitar tahun 1800 an, hal ini berhubungan dengan dengan berdirinya Kota Semarang.

Motif dari Batik Semarang sendiri dalam khasanah yang lebih luas banyak ditemui antara lain : motif flora yang berupa kembang sepatu dan fauna yang berupa kupu-kupu.

Dalam perjalanan sejarahnya Batik Semarang ini berhubungan dengan percampuran budaya antara Arab, Jawa dan Cina yang diterjemahkan dalam bentuk gambaran Warag Ngendog.

Sejarah Kampung Batik Semarang

Pada zaman penjajahan Jepang, Kampung Batik Semarang ini dibakar oleh Jepang, tidak hanya Kampung Batik saja.

Akan tetapi, kampung – kampung yang ada di sekitarnya juga seperti Kampung Kulitan, Kampung Rejosari, Kampung Bugangan.

Upaya tersebut dilakukan dengan maksud supaya kalau Belanda menduduki lagi, sentral – sentral ekonomi ini sudah tidak bisa digunakan lagi oleh Belanda. Termasuk semua alat-alat batik juga dirusak semuanya.

Kendati demikian, seperti semua sudah dibakar ada satu pabrik batik yang selamat yaitu “Batik Kerij Tan Kong Tin”. Pabrik ini berdiri di daerah Bugangan dengan pemiliknya seorang Tiong Hoa.

Tan Kong Tin adalah anak dari Tan Siauw Liem salah seorang tuan tanah di daerah Semarang. Dia menikah dengan keturunan Hamengku Buwono III yaitu Raden Ayu Dinartiningsih.

Sebagai seorang putri raja pastilah punya keterampilan membatik. Dengan keterampilannya Raden Ayu Dinartiningsih memadukan batik dengan gambar ciri khas Yogya dengan daerah pesisir.

Selanjutnya diteruskan oleh generasi kedua, yaitu Raden Nganten Sri Murdijanti hingga bertahan sampai tahun 1970 an. Di generasi kedua ini hasil yang dicapai malah lebih berhasil dalam pengelolaan pabrik batik ini.

Mulai dari proses awal berupa desain batik (carik), pembatik sampai pada proses celup sampai semuanya dikuasai dengan sempurna. Rata-rata pekerja pabrik pada zaman itu adalah orang-orang seputar daerah Bugangan.

Rata-rata batik yang dihasilkan dari pabrik ini disenangi oleh para pejabat Belanda dan Pribumi pada saat itu, selain itu juga para pedagang dan para wisatawan juga ikut menyenangi batik ini.

Perkembangan Kampung Batik Semarang

Kampung Batik Semarang dalam sejarah dari tahun 1970 sampai 1980 an, pada saat itu mati total tidak ada aktivitas membatik. Baru kemudian pada tahun 2005 mulai ada kegiatan, hal ini berlangsung karena ada anggapan “kok namanya Kampung Batik Semarang”.

Akan tetapi, kok tidak ada orang yang membatik, maka mulailah kegiatan seperti pelatihan membatik sering digalakan, hal ini bertujuan untuk memfasilitasi dan merevitalisasi Kampung Batik Semarang.

Pada waktu itu terkenal dengan Batik Krajan, Batik Gedong, Batik Tengah, Batik Malang, Batik Kubur Sari dan Batik Kandang Wedus yang terkenal dengan motifnya sendiri-sendiri.

Akan tetapi sayang motif itu tidak terekam secara visual, dan ini sebenarnya menjadi harta karun yang belum ditemukan sampai sekarang visual pada motif batik-batik ini.

Awal tahun 2007 atau 2008 salah satu tokoh yang mengenalkan Batik Semarang ini yang juga tinggal di Kampung Batik Semarang dia adalah Eko Haryanto, awalnya dia juga tidak tahu.

Ada pepatah “ tak kenal maka tak sayang”, setelah mengenal Batik Semarang lewat pelatihan Eko Haryanto merasa ini harus dilestarikan dan kalau bukan kita siapa lagi.

Maka dengan tekad yang bulat dia melakukan apa saja untuk melestarikan Batik Semarang ini. Sampai mencapai tingkatan expert untuk apapun yang berhubungan dengan hal batik.

Dari proses awal sampai akhir Eko Haryanto sangat mengerti sekali tentang proses membatik ini. Bahkan beberapa kali dijadikan pembicara dalam workshop permasalahan batik ini.

Pada tanggal 2 Oktober 2009 adalah awal kebangkitan batik, di mana UNESCO menetapkan batik berasal dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banyak Negara yang mengakui batik merupakan warisan leluhur mereka, seperti Malaysia, Cina, Australia, India bahkan Belanda serta masih banyak Negara Asia lainnya.

Namun, yang ada klarifikasi dari UNESCO yang tidak bisa dipenuhi oleh negara – negara pengklaim tersebut kecuali Indonesia.

Batik adalah Warisan Budaya Indonesia yang Adiluhung

Ada tiga daerah yang ditanya oleh UNESCO dan jawaban ke tiga daerah itu sama semua, daerah itu antara lain Solo, Pekalongan dan Lasem.

Pertanyaannya yang sepele, kamu belajar dari membatik dari siapa? Jawabannya dari ibu, nenek. Kemudian pertanyaan kedua yaitu kapan mulai belajar membatik? Jawabannya dari kecil.

Itulah yang dijadikan sebagai dasar bagi UNESCO untuk menjadikan batik berasal dari Indonesia karena ketiga daerah tersebut jawabanya sama semua satu sama lainnya.

Sedangkan negara lain yang mengklaim batik dari negara – negara mereka sendiri jawabannya semua berbeda tidak ada yang sama sekalipun.

Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang adiluhung. Melalui Kampung Batik Semarang ini Eko Haryanto ingin membuat batik Semarang lebih dikenal oleh masyarakat luas khususnya Kota Semarang sendiri.

Maka dari itu, dia berharap agar Pemerintah membantu peningkatan sumber daya manusianya. Karena di sinilah sebenarnya kunci untuk melestarikan Batik Semarang ini bisa lanjut sampai kapanpun serta pemasarannya.

Semua pihak kalau ingin konsisten melestarikan warisan budaya ini maka harus kompak, bukan hanya pemerintah saja tetapi instansi-instansi terkait juga harus ikut andil.

Kalau pembuat kebijaksanaan dalam hal ini Pemerintah Kota Semarang, ikut andil Eko Haryanto yakin Batik Semarang ini akan tetap lestari, misalnya digalakkan setiap hari jumat diwajibkan pakai Batik Semarang di semua instansi maupun sekolah di Semarang.

Mau tidak mau mereka akan membeli Batik Semarang ini yang dijual oleh perajin. Dengan begitu Batik Semarang semakin laku dan dikenal oleh masyarakat Semarang.

Belanja Batik Semarang

Tidak afdal rasanya jika kamu tidak membeli sehelai kain batik di sentral batik. Di sini, kamu bisa menemukan puluhan toko batik yang menyediakan kain – kain indah dengan berbagai motif yang ada.

Kamu bisa menemukan motif batik dari berbagai daerah di Indonesia karena warga yang tinggal di kampung ini pun berasal dari pelosok negeri. Namun, Batik Semarangan yang harus kamu beli karena kamu sedang langsung berada di pusatnya.

Hunting Foto

Kampung Djadhoel Semarang

Wisata Semarang

Tidak bisa dipungkiri bahwa Kampung Batik Semarang juga merupakan surga bagi para pecinta foto karena lokasinya yang instagrammable sekali. Lokasi di kampung ini dipenuhi dengan berbagai grafiti indah yang menggambarkan tentang batik maupun kebhinekaan Indonesia.

Rumah-rumah warga pun tak kalah untuk dicat warna-warni hingga menjadi menarik dan sayang untuk tidak diabadikan. Salah satu spot yang wajib untuk berswafoto adalah plang Kampoeng Jadoel yang berada di daerah Kampung Batik Tengah.

Titik ini menjadi salah satu ikon Kampung Batik Semarang dan bisa menjadi tanda bahwa kamu sudah pernah datang ke sentral batik di Semarang ini.

Di dekat situ pun terdapat foto – foto yang menggambarkan Semarang tempo doeloe dan pembuatan batik yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Pokoknya kamu akan puas untuk mengunggah foto ke media sosial karena banyaknya tempat yang bisa kamu telusuri di Kampung batik Semarang ini.

Demikian, info mengenai keunikan Kampung Batik Semarang. Terima kasih kepada kamu yang sudah mengulangkan waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar