Jalan-jalan ke Purwokerto tidak afdol kalau tidak menyempatkan diri menikmati Taman Wisata Baturaden. Obyek wisata utama di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, hanya 14 km dari Ibukota Banyumas. Lokasinya berada di sebelah utara kota Purwokerto dan berada di bagian lereng sebelah selatan Gunung Slamet.

Banyak Pelajaran yang bisa diambil dari pesona alam yang luar biasa ini. Bahkan, segala kebutuhan hidup dan juga obat-obatan yang dibutuhkan ada di alam. Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia patutnya bersyukur karena dikarunia keindahan alam yang tidak ada habisnya untuk dieksplore.

Salah satu kawasan yang memiliki pemandangan alam yang sempurna adalah Purwokerto. Dimana pesonanya mampu membius setiap orang yang berkunjung dan singgah dengan kota yang terkenal dengan Tempe Mendoannya ini. Apalagi, Obyek Wisata Baturraden adalah obyek wisata andalan yang menjadi ikon kota ini.

Kawasan Baturraden terbilang cukup ramai, tidak dipengaruhi oleh musim libur. Setelah melewati gerbang masuk, pengunjung dihadapkan pada sebuah taman yang luas dan dikelilingi beberapa fasilitas penunjang seperti taman bermain anak, warung pedagang makanan khas seperti sate kelinci, jagung bakar dan pecel desa, pos keamanan dan ruang kesehatan.

Baturaden Purwokerto

index Baturaden

Harga tiket masuknya pun terhitung murah hanya Rp.10.000/orang Anda sudah bisa masuk dan bersantai bersama keluarga, udaranya yang sejuk membuat anda bersama keluarga betah berada di obyek wisata ini.

Obyek wisata ini buka dari pagi jam 08.00 – 17.00 WIB setiap harinya. Dan uniknya lagi Baturraden ada pesawat untuk menonton teater seperti nusakambangan, teluk penyu, benteng padem, tsunami, pulau bali, merapi dan film anak-anak. Harga masuk pesawat Rp.5.000 untuk sekali nonton film teater.

Pengelola Baturaden Toto, ia mengaku setiap harinya obyek wisata ini di datangi pengunjung dari luar kota 800 – 1200 pengunjung perhari bisa lebih di hari libur sekolah, ujar Toto. Dari harga tiket masuk Rp.10.000 (Perda No.20 Tahun 2011 Perbup No.25 Tahun 2012) dan Rp.500.000 untuk ansuransi Jasa Raharja Putra Pemerinta Kabupaten Banyumas.

Baca Juga Oleh - Oleh Khas Purwokerto

Sebelum menuju wisata nya yuk kita jelaskan Sejarah Baturaden dan Kisahnya dibawah ini :

 

Sejarah Baturaden dan Kisahnya

Dibagian ujung taman terdapat patung sepasang pria dan wanita yang sedang menari. Patung yang berdiri tegak hampir lima meter ini merupakan gambaran dari legenda asal-usul nama Batu Raden.

Legenda Batu Raden mengkisahkan seorang abdi atau pembantu yang mencintai putri dari majikannya sendiri, putri seorang adipati dari Kadipaten Kutaliman yang berada di sebelah barat Batu Raden.

Hubungan yang berbeda derajat itu tidak direstui oleh majikannya dan akhirnya mereka diusir dari Kadipaten. Akhirnya mereka menemukan tempat yang nyaman dan sejuk untuk tinggal hingga akhir hayat. Akhirnya tempat tersebut berkembang dengan nama Batur Raden, dari kata “batur” (pembantu) dan “raden” (majikan).

Di area taman kawasan wisata Batu Raden tepi sungai Gumawang disediakan beberapa tikar yang disewa untuk keluarga yang akan piknik di tempat ini. Selain itu, beberapa sudut taman yang masih kosong dapat dipergunakan untuk berpiknikbagi keluarga atau sekelompok orang yang membawa tikar dan bekal sendiri.

Kisah Baturaden cocok untuk Anda kaum muda yang tengah memadu cinta. Jadi kalau sedang memadu kasih lalu berpacaran ke Baturaden tepatlah langkah itu. Cinta kalian akan makin terpatri langgeng selamanya, amin.

Beginilah kisahnya :

Kocap kacarita, Raden Ayu Rara Suminten dan Jaka Gamel akhirnya buron. Melarikan diri dari Kadipaten Pagemprongan. Jalinan cinta antara sepasang kekasih, putri kadipaten dengan pembantunya atau batur perawat kuda menjadikan murka sang Adipati Jayeng Parogo.

Padahal, Raden Ayu Rara Suminten sudah dijodohkan dengan Pangeran Genowo, kemenakan sang Adipati. Sejoli itu, sang putri dengan baturnya sudah menikah dan mempunyai anak perempuan yang diberi nama Dewi Cendana Sari.

Pembaca yang budiman, saat itu Jaka Gamel dan Raden Rara Suminten sedang menimang-nimang putrinya di suatu desa di kaki gunung tempat putri melarikan diri dengan sang suami yang sangat dicintai.

Sambil menimang bayi Rara Suminten grenengan nembang,”Ta lelo, lelo lelo ledhung sing ayu rupane… “

Jaka Gamel “Diajeng, jangan selalu dirisaukan. Mari, kita pasrah kepada Sang Murbeng Dumadi. Di tangan Gusti Allah takdir kita ditentukan “

Pembaca yang budiman. Kocap kacarita, tiba-tiba terdengarlah suara riuh rendah, suara para prajurit yang berteriak-teriak yang dipimpin oleh Pangeran Genowo yang tengah mencari dua sejoli Jaka Gamel dan Raden Ayu Rara Suminten.

Truna Kenceng,”Sunuwun Pangeran Genowo. Nah, disini rupanya buronan kita ngumpet ! Dasar bocah durhaka, yang tidak patuh pada orang tua ! oooo… lagi berkasih-kasihan ya ? Lagi pada indehoyyaaannn.. ya ? Idih… jan enggak tahu malu ya !!?”

Pangeran Genowo,”Diajeng Rara Suminten, cah sing ayu.. ayu pisan. Mak dhunuk dhunuk dhublang sing moles pisan.Ooo alllaaahhh… jan kamu memang nggak mau dimuliakan, demuktina. Orang mau dipersunting, diperistri pangeran gagah yang kaya raya, punya derajat dan pangkat, lah kok malah mau jadi istrinya si gembel hina dina ini seperti Jaka Gamel ini ! Diajeng Rara Suminten… Diajeng Rara Suminten …. “

Rara Suminten,”Kangmas Pangeran Genowo. Katresnan yang tulus dan suci, tidak mengenal harta, pangkat dan derajat. Aku rela menderita asal bersama dengan Kangmas jaka Gamel “

Pangeran Genowo,” Gombaaallll… cinta gombaaaallll … ! “

Jaka Gamel,”Sinuwun Pangeran Genowo. Diajeng Rara Suminten sekarang sudah menjadi istri saya. Pangeran jangan kasar terhadap Diajeng Rara Suminten!”

Truna Kenceng,”nah.. nah…. ini biang keroknya ! Hajar saja dia Pangeran !”

Pangeran Genowo,”Ya, rangket saja! Bawa ke kadipaten !”

Truna Kenceng,”Bunuh saja, Pangeran ! Kalau sudah modar kan beres !”

Pembaca yang budiman, maka terjadilah bentrokan antara Jaka Gamel dengan para prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Genowo dibantu Demang Truna Kenceng. Walau dikeroyok. Dasarnya Jaka Gamel memang punya kanuragan mumpuni sanggup menghadapi keroyokan tersebut.

Kocap kacarita, akhirnya terjadi duel satu lawan satu antara Jaka Gamel berhadapan dengan Pangeran Genowo. Perang tanding itu pun berakhir dengan tewasnya Pangeran Genowo. Para prajurit pun kocar-kacir, Demang Truna Kenceng panik berusaha melarikan diri.

Truna Kenceng,”Waduh, celaka.. celaka ! Katiwasan.. katiwasan Pangeran Genowo tewas … ! Hai, prajurit yang tersisa, ayo cepat mari kita pulang. Bawa jenazah Pangeran Genowo, mari kita pulang !”

Para pembaca yang budiman, begitulah akhirnya perburuan Pangeran Genowo mengejad sepasang kekasih berakhir di ujung maut. Pangeran Genowo tewas lalu dibawa pulang rombongannya kembali ke Kadipaten Pagemprongan. Sementara itu setelah kejadian tersebut Raden Ayu Rara Suminten dan Jaka Gamel tengah merenungi perjalanan cintanya sampai dengan adanya kejadian kepergok dengan rombongan Pangeran Genowo.

Rara Suminten,”Kangmas Jaka Gamel, bagaimana ini? Kenapa terjadi peristiwa ini? Lalu bagaimana kita?”

Jaka Gamel,”Yah, begitulah kejadiannya. Mari kita pasrah saja kepada Gusti Allah Sang Murbeng Dumadi”

Kocap kacarita, tiba-tiba terdengarlah suara bergemuruh laksana geludug berkesinambungan disertai angin berdesau kencang. Pohon-pohon pinus di kaki gunung itu bergoyang meliuk-liuk menambah suasana penuh misteri. Kemudian terdengarlah suara kakek-kakek lamat-lamat dari kejauhan makin lama makin dekat dan terdengar nyaring.

Suara,”Putuku ngger Jaka Gamel dan Rara Suminten. Ini memang sudah menjadi takdir, putuku, Gusti Allah Sang Murbeng Dumadi sudah menetapkan garis hidupmu cucuku sakloron. Ini adalah lelakon yang harus kalian jalani cucuku, ngger Jaka Gamel dan Rara Suminten. Tawala, menambah lan pasrah cucuku”

Suara itu berhenti sebentar. Sementara itu angin tetap berdesau sehingga suara menggema menyelusur lereng-lereng lembah menyusup diantara pohon pinus. Lalu terdengan kembali suara itu.

Suara,”Oleh karena itu, camkanlah dan perhatikan kata-kataku ini cucuku. Tempat di kaki gunung ini tempat kejadian ini kunamakan Baturaden !”

Pembaca yang budiman, gemuruh pun bergelora disertai desingan angin kencang, gemuruhnya bergulung-gulung menuruni lembah-lembah menaiki bukit-bukit di kaki gunung itu.

Suara,”Baturanden artinya terpatrinya cinta batur dengan raden. Baturaden ini semoga kelak mbesuk mben bisa digunakan untuk pepeling atau peringatan untuk semua orang bahwa cinta yang suci itu tak kenal akan pangkat derajat dan harta !

Gelegaaaar ! Guntur meledak gemuruh membahana angin berdesau kencang. Lalu mak lap hening sepi suara angin gemuruh lenyap. Jaka Gamel dan Raden Ayu Rara Suminten lalu ndheprok sujud ke tanah.

Jaka Gamel dan Rara Suminten,Nggih, sendhika dhawuh Bapa!”

Wisata Purwokerto Yang Cocok Untuk Liburan Anda

Pembaca yang budiman, begitulah kisah cinta yang suci yang tak kenal akan pangkat, derajat dan harta. Berkat cinta tulus dan suci mereka berdua Jaka Gamel dan Raden Ayu Rara Suminten hidup berdua berbahagia di Baturaden. Lalu kalau ada hoax yang katanya kalau berpacaran di Baturaden akan gagal dan bubaran itu hanya ujaran kebencian orang ketiga yang mencemburui Anda berdua.

Pembaca yang budiman, dongen legenda Baturaden ini, silahkan Anda melancong, piknik, berwisata ke Baturaden sambil berpacaran pun tak menjadi masalah. Yah, tentunya asal tidak kelewatan atau merusak alam.

Legenda Baturaden ini diolah dari versi Ki Sugimin, bintang rol Kethoprak Komres 911 Banyumas yang siaran setiap Minggu siang di RRI Purwokerto, jaman dahulu tahun 1970-an.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.