Pertempuran Ambarawa Singkat dan Sejarah Terjadinya

Pertempuran Ambarawa – Pada kesempatan kali ini dosen wisata akan membahas mengenai pertempuran di Ambarawa.

Suatu negara yang bijak adalah negara yang mengenal sejarah masa lalunya. Mengapa demikian? Karena kita sebagai satu kesatuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia harus mengenal sejarah negara kita sendiri. Dan satu hal yang perlu digarisbawahi adalah sejarah itu akan berulang kembali.

Segala kejadian atau hal yang pernah terjadi di masa lalu, suatu saat akan terjadi pula di masa datang dengan beberapa variasi namun esensinya atau intinya tetap sama. Berikutnya kita akan belajar dari masa lalu dan jangan sampai mengulangi kesalahan pendahulu.

Selain itu, dengan mengenal, mempelajari catatan sejarah, di dalam diri kita akan timbul rasa menghargai atas apa yang kita miliki sebagai bangsa. Betapa besar perjuangan dan pengorabanan para pahlawan juga pendekar dalam rangka untuk merebut kemerdekaan bangsa Indonesia ini.

Pengorbanan jiwa raga, harta, dan nyawa semua itu harus kita sadari, hormati dan kita jadikan sebagai teladan yag baik dalam kehidupan kita.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tak menulis, dia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Pramoedya Ananta Toer (Sastrawan Besar Indonesia)

Pertempuran Ambarawa

Pada saat itu Ambarawa telah menjadi kota militer untuk pemerintah Hindia Belanda sejak zaman penjajahan. Di sanalah didirikan Benteng Willem I yang juga disebut sebagai Benteng Pendem.

Lokasi Benteng Pendem ini berada tidak jauh dari museum kereta api Ambarawa yang dulu merupakan sebuah stasiun kereta.

Di Ambarawa terdapat kamp khusus perempuan dan anak – anak Belanda pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Ambarawa sebagai kota yang memiliki kamp tawanan perang telah pasti akan didatangi oleh pasukan sekutu.

Setelah kekalahan dari Jepang, pasukan sekutu mendatangi Ambarawa atas nama RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoers of War and Internees) untuk merehabilitasi tawanan perang dan internir.

Terjadinya Pertempuran di Ambarawa 

Peristiwa Pertempuran di Ambarawa ini terjadi pada tanggal 20 November 1945. Dan berakhir hingga tanggal 15 Desember 1945, antara pasukan TKR (Indonesia) melawan pasukan sekutu (Inggris).

Ambarawa merupakan sebuah kota yang terletak di antara dua kota yaitu Semarang dan Magelang, juga di antara Semarang dan Salatiga.

Peristiwa Ambarawa ini pada awalnya dilatarbelakangi oleh mendaratnya pasukan Inggris dari Divisi India ke-23 di Kota Semarang pada tanggal 20 oktober 1945.

Pemerintah Indonesia memperkenankan sekutu untuk mengurus tawanan perang yang saat itu berada di penjara Magelang dan Ambarawa.

TErjadinya Pertempuran Ambarawa
Terjadinya Pertempuran Ambarawa

Kedatangan pasukan Inggris yang kemudian diikuti oleh pasukan NICA (Nederlandsch Indië Civiele Administratie). Sekutu lalu mempersenjatai para bekas tawanan perang Eropa tersebut.

Sehingga pada tanggal 26 Oktober 1945 terjadilah sebuah insiden di Kota Magelang. Dan kemudian sampai pada puncaknya terjadi pertempuran antara pasukan TKR melawan pasukan sekutu (Inggris).

Insiden tersebut dapat diredakan dan berakhir setelah Presiden Ir. Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethell dari Sekutu datang ke Magelang pada tanggal 2 November 1945.

Pada akhirnya mereka mengadakan perundingan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat antara kedua pihak yang dituangkan dalam 12 pasal. Naskah persetujuan tersebut berisi antara lain sebagai berikut.

  1. Pihak Sekutu dan para pasukannya akan tetap ditempatkan di Magelang. Dengan tujuan untuk melakukan kewajibannya melindungi dan mengurus evakuasi pasukan Sekutu yang ditawan oleh pasukan Jepang (RAPWI)
  2. Palang Merah atau Red Cross yang menjadi bagian dari pasukan Inggris.
  3. Jumlah pasukan Sekutu harus dibatasi sesuai dengan tugasnya.
  4. Pihak Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dan badan-badan di bawahnya
  5. Jalan Raya Ambarawa hingga Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia dan Sekutu.

Tokoh Pertempuran Ambarawa

Adapun tokoh – tokoh terkenal yang terlibat dalam pertempuran di Ambarawa adalah sebagai berikut.

  1. Letkol Isdiman yang gugur dalam medan pertempuran Ambarawa.
  2. Kolonel Sudirman, yang merupakan pemimpin pasukan Indonesia menggantikan Letkol Isdiman yang gugur dahulu.
  3. M Sarbini, yang merupakan Pemimpin TKR Resimen dari Magelang.
  4. Brigadir Bethel,  yang merupakan pemimpin tentara Inggris.

Penyebab Pertempuran Ambarawa

Penyebab terjadinya pertempuran ambarawa adalah karena pihak sekutu ternyata tidak menepati perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.

Sehingga pada tanggal 20 November 1945, meletuslah pertempuran Ambarawa yaitu pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak sekutu dari Inggris.

Dan pada tanggal 21 November 1945, pasukan Inggris yang berada di Magelang ditarik mundur ke Ambarawa di bawah lindungan pesawat tempur.

Namun, tanggal 22 November 1945 pertempuran berkobar di dalam kota dan pasukan Inggris melakukan genjaran terhadap perkampungan di sekitar Ambarawa.

Pasukan TKR yang berada di Ambarawa bersama dengan pasukan TKR lainnya dari Salatiga, Boyolali, dan Kartasura bertahan di kuburan Belanda.

Sehingga mereka semua membentuk garis medan di sepanjang rel kereta api yang membelah dua Kota Ambarawa.

Pemimpin Pertempuran Ambarawa

Pertempuran di Ambarawa dipimpin oleh Kolonel Sudirman. Sedangkan dari arah Magelang pasukan TKR Divisi V/Purwokerto dipimpin oleh Imam Androngi yang melakukan serangan fajar pada tanggal 21 November 1945.

Serangan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memukul mundur pasukan Inggris yang berada di Desa Pingit. Pasukan yang dipimpin oleh Imam Androngi ini berhasil menduduki Desa Pingit dan melakukan perebutan terhadap desa – desa yang berada di sekitarnya.

Pertempuran Ambarawa Jenderal Sudirman
Wisata Semarang

Batalion Imam Androngi kemudian meneruskan gerakan pengejarannya terhadap Sekutu. Lalu Batalion Imam Androngi diperkuat oleh tiga Batalion dari Yogyakarta, yaitu Batalion Sugeng Batalion 10 di bawah pimpinan Mayor Soeharto dan Batalion 8 di bawah pimpinan Mayor Sardjono.

Pada akhirnya pihak sekutu terkepung, meskipun demikian pasukan musuh mencoba untuk menerobos kepungan itu dengan cara melakukan gerakan melambung. Dan mengancam kedudukan pasukan TKR menggunakan alat-alat berat seperti tank dari arah belakang.

Untuk mencegah terjadinya jatuhnya korban jiwa, pasukan TKR mundur ke Bedono. Dengan bantuan Resimen 2 yang dipimpin oleh M. Sarbini, Batalion Polisi Istimewa dipimpin oleh Onie Sastroatmojo dan Batalion dari Yogyakarta

Dan hal ini mengakibatkan gerakan sekutu berhasil ditahan di Desa Jambu. Di desa Jambu inilah, para komandan pasukan melakukan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar.

Rapat tersebut menghasilkan pembentukan komando yang disebut “Markas Pimpinan Pertempuran”, yang bertempat di Kota Magelang.

Sejak saat itulah, Ambarawa dibagi menjadi empat sektor yaitu sektor utara, sektor selatan, sektor barat, dan sektor timur . Kekuatan pasukan tempur disiagakan secara berganti – gantian.

Tepat pada tanggal 26 November 1945, Letnan Kolonel Isdiman yang merupakan pimpinan pasukan dari Purwokerto gugur. Pada saat itulah Kolonel Sudirman Panglima dari Divisi V di Purwokerto mengambil alih pimpinan pasukan. Situasi pertempuran menguntungkan pasukan TKR Indonesia.

Kronologi Terjadinya Puncak Pertempuran Ambarawa

Pada akhirnya tanggal 5 Desember 1945, sekutu dan pasukannya terusir dari Banyubiru. Pada tanggal 11 Desember 1945 Kolonel Sudirman mengambil prakarsa untuk mengumpulkan setiap komandan sektor, setelah mempelajari situasi medan pertempuran.

Pertempuran Ambarawa
Puncak Pertempuran Ambarawa

Dalam kesimpulan Kolonel Sudirman,  dinyatakan bahwa sekutu telah terdesak sehingga perlu dilaksanakan serangan yang terakhir. Rencana serangan yang terakhir tersebut disusun sebagai berikut.

  • Serangan dilakukan serentak dan mendadak dari semua sektor.
  • Setiap komandan sektor memimpin pelaksanaan serangan.
  • Pasukan badan perjuangan atau laskar menjadi tenaga cadangan.
  • Hari serangan dilangsungkan pukul 04.30 tanggal 12 Desember 1945.

Akhir dari Pertempuran Ambarawa ini terjadi pada tanggal 12 Desember 1945 dini hari, yang kemudian pasukan TKR Indonesia bergerak menuju pos-posnya masing-masing. Hanya dalam waktu setengah jam pasukan TKR berhasil mengepung pasukan musuh yang ada di dalam kota.

Pertahanan Sekutu yang terakhir dan terkuat diperkirakan di Benteng Willem yang terletak di tengah – tengah Kota Ambarawa. Lalu, Kota Ambarawa dikepung selama empat hari empat malam.

Sekutu merasa kedudukannya semakin terdesak dan berusaha keras untuk mundur dari medan pertempuran. Hingga pada akhirnya tanggal 15 Desember 1945, sekutu meninggalkan Kota Ambarawa dan mundur ke Kota Semarang.

Demikian, info mengenai Pertempuran di Ambarawa dan sejarah singkatnya. Terima kasih kepada kamu yang sudah mengulangkan waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar