Perkembangan Semarang Tempo Dulu di Kali Mberok

Kota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang tidak terlepas dari sejarah Semarang tempo dulu. Semarang juga merupakan kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. 

Sebagai salah satu kota yang paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa.

Semarang Tempo Dulu

Sejarah Semarang tempo dulu tidak terlepas dari Kali atau Sungai Mberok. Kali Mberok, begitu masyarakat Kota Semarang menyebutnya. Kali Mberok atau Berok terletak persis di pusat ekonomi tradisional Pasar Johar Semarang yang menghubungkan antara Kota Lama Semarang dan Kota Semarang sekarang.

Berkerumun pula sejarah masjid – masjid kuno Semarang yang teradapat di sekitar Kali Mberok. Kata Mberok sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Belanda, dalam pelafalan lidah Belanda sebenarnya adalah Burg atau jembatan.

Karena kebanyakan orang Jawa sulit sekali untuk melafalkan dalam bahasa Belanda maka kemudian lama – kelamaan kata Burg berubah menjadi Berok atau Mberok.

Jembatan yang dimaksud letaknya berjajar dan mengubungkan aktivitas masyarakat Semarang yang terdapat di Jalan Pemuda sampai Kota Lama Semarang.

Kemudian area Pasar Johar, dan Jalan Layur yang berdekatan dengan Masjid Menara Kampung Melayu.

Meskipun bukan merupakan tempat melancong bagi para wisatawan, namun keberadaan Kali atau Sungai Mberok tidak dapat dipisahkan begitu saja dari tempat yang menarik. Seperti di kawasan Kota Lama Semarang, Masjid Besar Kauman, dan Masjid Menara Jalan Layur.

Lalu pasar tradisonal terbesar di Kota Semarang yaitu Pasar Johar, Kawasan Ekonomi Pecinan dan Stasiun Tawang beserta dengan Poldernya.

Peran Kali Mberok di Semarang Tempo Dulu

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa kawasan yang dilewati Kali atau Sungai Mberok merupakan kawasan terpenting dari cikal bakal Semarang tempo dulu.

Kali Mberok Semarang Tempo Dulu
Kali Mberok Semarang Tempo Dulu

Keberadaan sungai ini sangat dibutuhkan dan merupakan sarana transportasi penting dari pesisir pantai utara menuju darat pada saat itu. Mulai dari ekspedisi Belanda hingga Cheng Ho (Sam Po Kong) juga pernah melewati kali Mberok ini.

Kali Mberok pada masa kejayaannya menjadi saksi bisu kemeriahan ekonomi waktu Semarang tempo dulu. Di sungai ini juga menghubungkan antara strata sosial budaya yang berbeda menjadi satu kawasan yang sangat menarik.

Posisi Kali Mberok di Semarang Tempo Dulu

Dimulai dari kawasan Kampung Melayu di sebelah utara dan di sebelah barat Kali Mberok. Dan pada saat sekarang masih terdapat sisa peninggalan berupa Masjid Menara yang terletak di Jalan Layur.

Disebut Masjid Menara karena memang dari dekat sekalipun masjid ini tidak terlihat masjidnya. Karena tertutup pagar yang tinggi dan hanya terlihat menara yang menjulang tinggi.

Menara tersebut pada zaman dulu digunakan dengan tujuan oleh muazin untuk mengumandangkan azan.

Etnis Muslim di Kali Mberok

Dari kawasan utara Kali Mberok sampai Pasar Johar merupakan perkampungan masyarakat muslim. Terutama orang-orang melayu yang singgah dan bertempat tinggal di Tanah Jawa ini.

Masjid Kauman Semarang Tempo Dulu
Masjid Kauman Semarang Tempo Dulu

Selain Masjid Menara, masyarakat muslim pribumi Jawa juga membangun Masjid Kauman yang letaknya berada di sebelah barat Kali Mberok dan berdekatan dengan Pasar Johar.

Etnis Tiong Hoa di Kali Mberok

Selain komunitas masyarakat melayu dan pribumi yang berada paling awal menempati area sekitar Kali Mberok. Disusul juga oleh warga Tiong Hoa yang kebanyakan berasal dari Negara Cina.

Warga Tiong Hoa tersebut membentuk kawasan yang padat ekonomi yang letaknya berada di selatan Pasar Johar hingga menerobos Kali Mberok yang dikenal dengan Kawasan Pecinan Semarang.

Hingga saat ini di kawasan pecinan ini banyak terdapat toko – toko yang berjajar melingkari area Kota Lama Semarang seperti toko emas, kelontong, plastik, dan lain sebagainya.

Kawasan Pecinan Semarang Tempo Dulu
Kawasan Pecinan Semarang Tempo Dulu

Di antara yang sangat spesial adalah Warung Semawis dengan menu khas oriental yang letaknya berada persis di sebelah Kali Mberok dekat dengan Klenteng dan Replika Kapal Cheng Ho.

Ketika Hari Imlek tiba, kawasan ini berubah penampilannya dengan beraneka lampion dan ektra warna merah yang berjajar di sepanjang jalan.

Di sekitar kawasan pecinan juga terdapat toko dengan beraneka macam jualan yang menarik, lengkap dan padat. Masyarakat menyebutnya dengan nama Gang Baru. Di mana dua Etnis Jawa dan Tiong Hoa berdampingan dalam perekonomian yang rukun.

Kawasan Pecinan Semarang terbilang panjang dan luas, dimulai dari Jalan Kranggan lalu Gang Beteng, Wot Gandul sampai kembali ke Kranggan melewati Gang Warung yang merupakan jalanan pecinan yang paling populer dilewati masyarakat Semarang.

Di masa yang modern saat ini, kawasan Pecinan Semarang tidak hanya berada di kawasan sekitar aliran Kali Mberok saja. Namun, sudah mulai merangsek ke luar area seperti sepanjang Jalan MT Haryono dan Bundaran Bubaan.

Etnis Eropa di Kali Mberok

Komunitas yang lain di masa Semarang tempo dulu adalah warga Eropa ketika datang ketika zaman penjajahan terutama warga Belanda.

Tepatnya di kawasan Kota Lama Semarang yang dimulai dari ujung jembatan Kali Mberok yaitu depan Kantor Pos Pusat Semarang kemudian melewati Jalan Merak dan Polder Tawang lalu Bundaran Bubukan sampai kembali ke Kali Mberok.

Letak kawasan Kota Lama Semarang ini berada di sebelah timur Kali Mberok Semarang. Bangunan yang sudah sangat terkenal adalah Gereja Blenduk. Bangunan ini berusia lebih dari 200 tahun dan hingga sampai saat ini gereja ini masih kokoh berdiri dan dirawat dengan baik.

Gereja Blenduk Semarang Tempo Dulu
Wisata Semarang

Masyarakat Semarang memberi nama dengan Gereja Blenduk karena di bagian atas menara bangunan ada sebuah kubah besar berbentuk setengah bola, orang Jawa menyebutnya dengan blenduk yang artinya mengembang ke atas.

Bangunan gereja ini dibangun tahun 1753 yang digunakan untuk Gereja Nederlandsche Indische Kerk. Gedung ini telah mengalami beberapa kali renovasi hingga terlihat seperti saat ini. Perancang bangunan gereja ini adalah De Wilder dan W. Westamas.

Kerukunan dan Kedamaian di Semarang Tempo Dulu 

Kali Mberok dalam sejarah perkembangannya telah menghubungkan etnis yang berbeda di sepanjang zaman, dari Melayu, Jawa, Tionghua dan Eropa.

Dari tempat inilah Semarang tempo dulu dapat disatukan yang dari sisi ekonomi yang terdapat di Pasar Johar dan Kawasan Pecinan. Kemudian dari sisi religi dengan beragamnya bangunan ibadah seperti Masjid Besar Kauman, Masjid Menara, Klenteng di Pecinan, dan Gereja Blenduk Kota Lama Semarang.

Dan di Kali Mberok inilah sistem pemerintahan pada saat itu dapat dipadukan yang keberadaannya mulai dari Tugu Muda hingga menembus Kota Lama Semarang yang melewati Kali Mberok ini.

Namun pada saat ini sangat disayangkan, pengelolaan Kali Mberok seperti tidak ada habisnya kapan akan berhenti. Sampah yang mulai menggenang di sepanjang Kali Mberok ini ada di sebelah utara.

Dan tingginya debit air sekitar Pasar Johar hingga rob air laut sehingga sering membanjiri kawasan ekonomi Pasar Johar dan di sekitarnya.

Kali Mberok Sekarang
Kali Mberok Sekarang

Belum lagi bau yang tercium tidak sedap di sepanjang Kali Mberok ini. Selain diakibatkan oleh penurunan tinggi daratan daerah di sekitar Semarang, juga diakibatkan oleh sistem selokan yang tidak lancar di seluruh kawasan yang dilewati Kali Mberok ini.

Walau bagaimanapun juga, Kali Mberok ini merupakan saksi bisu Semarang tempo dulu. Jadi, jangan sampai keberadaan Kali Mberok saat ini justru menimbulkan ketidaknyamanan di masyarakat Semarang saat sekarang.

Demikian, info mengenai Perkembangan Semarang Tempo Dulu di Kali Mberok. Terima kasih kepada kamu yang sudah mengulangkan waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar