Pesona Wisata Apung Kampung Rawa Ambarawa

Pernahkah Kalian melewati jalan lingkar Ambarawa? Lingkar ini menghubungkan jalur Bawen ke Mageang, juga Salatiga lewat Muncul. Dengan jalan aspal yang sat mulus membelah persawahan, serta Anda akan disajikan pemandangan dari Rawa Pening.

Dari arah Bawen, berjarak sekitar dua kilometer sebelum  perenpatan Muncul – Ambarawa, Anda akan melihat sejumlah bangunan yang berciri joglo (rumah tradisional Jawa) yang terletak sebelah kiri jalan. Bangunannya sangat mencolok yang berada ditengah persawahan. Letaknya kurang lebih meter dari jalan besar. Dibelokan pintu masuk terdapat terdapat gapura yang besar.

Dengan latar belakang gunung, panorama telaga, sawah, dan pegunungan sungguh menyajikan perpaduan kompleks yang menampilkan kesatuan yang integratife alam yang tidak tertandingi. Hanya decak kagum yang bisa menggambarkan kreasi alam yang satu ini. Dari Kampung Rawa , mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan hijau dan keluasan hamparan sawah juga bentangan Rawa Pening, dari kejauhan latar selatan diapit bentag perbukitan tinggi. Dengan panorama lima pegunungan yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Gajah Mungkur Gunung Telemoyo dan Gunung Ungaran, puncak gunung tersebut seolah – olah sambung menyambung membentuk satu garis dengan lekukan menusung langit.

Baca Juga Pesona Candi Gedong Songo.

Masuk diarea resto Anda harus membayar tiket masuk yang berada di pos. Harga tiket masuk untuk mobil Rp. 15.000, untuk kendaraan roda dua harga tiket masuknya Rp. 5.000.

Jalan masuk yang cukup lebar, untuk arus bolak baik kendaraan mobil. Hanyan memiliki satu jalur untuk masuk dan keluar. Setelah masuk, Gedung pertama yang ditemui diedikasikan sebagai Pusat Promosi Produk Unggulan UKM. Parkirannya sangat luar untuk kendaraan mobil dan montor, jadi sangat nyaman buat parkir.

Dari tepat parkir Anda dapat memilih ke tempat resto dan pemancingan atau ke tempat resto apung. Tersedia getek untuk menyebrang ke resto apungnya, getek ini untuk menyebarang. Getek ini adalah fasilitas yang disediakan oleh resto untuk menambah kesan tempo dulu atau kesan jadul, ini malah menjadi dayaterik sendiri.

Untuk makan di resto apung, Anda bebas memilih tempat yaitu diruang utama yang berkapasitas kurang lebih 100 orang, atau memilih di gazebo yang berkapasitas  kurang lebuh 6 orang. Disi juga tersedia wahana bermain untuk anak, hingga permainan sepeda air.

kampoeng apung

Patung – patung tokoh pewayangan tersebar di sejumlah titik strategis, baik di air maupun dilokasi apung, patung – patung ini memperkuat kesan tradisional jawa. Ada juga hewan yang ada disini seperti sapi, kerbau, ikan, burung, dan masih banyak lagi, ini memperkuat kesan pedesaan.

Dari rumah rumah makan kampung rawa ini Anda juga bisa menikmati wisata mengelilingi rawa pening dengan menggunakan kapal. Satu kapal dihargai kurang lebih Rp. 100.000 perkapal, dan bisa dinaiki kurang lebih 10 orang per kapal. Jadi sangat nikmat sekali, sebelum menyantap kuliner Anda bisa berwisata mengelilingi rawa pening yang sangat indah.

Mengusung konsep ekowiwata, pengembang “Kampung kuliner” ini sangat cerdik memadukan keindahan alam ciptaan Tuhan dengan kreativitas manusia. Kolaborasi ini tidak terkait alamnya melainkan juga “scenario bisnis” dan ramuan penyajian produknya.

Konon, masih menurut pak Simon, “kampung rawa” ini berdiri sejak 2012, dengan nilai investasi sekitar 13 Milyar. Sebagian besar modal berasal dari CU KSP Artha Prima. Karena lahan tersebut merupakan tanah bengkok milik desa, maka di sepakati sharing profit 70:30%. Tiga desa yang mendapatkan profit ini merupakan Tambakrejo, Tambaksari, dan Bejalen. Sejumlah kelompok nelayan, kelompok petani rawa pening, juga belasan UKM terlibat dalam pendirian kampoeng apung ini. Dengan sendirinya mereka juga mendapatkan manfaat rutin.

rawa pening

Disini berkonsep pemberdayaan masyarakat tercakup dalam bisnis inti. Strategi ini terbilang ampuh mensiasati konsidi dimana lokasinya yang tidak berjarak dengan danau rawa pening berarti menambak aturan tentang sempadan rawa. Seperti diketahui, garis sempadan adalah garis batas aman yang ditetapkan sebagai acuan mendirikan bangunan atau pagar, yang ditarik pada jarak tertentu (dalam hal ini berjarak 500 meter) dari tepi rawa, tepi waduk, mata air, rel kereta, dan sebagainya.

Dengan terlibatnya kelompok tani, UKM setempat, juga menciptakan eksternalitas positif bagi lingkungan bisnis dan dinamika wisata disekitarnya, keberadaan kampung rawa sebagai pusat bisnis desa menjadi dilemma. Tidak berijin tetapi tidak bisa pula dihentikan. Dibangun dengan konsep terapung tentu saja menghilangkan kehawatiran bahaya karena lokasinya dekat dengan rawa. Kondisi unik ini nempaknya membutuhkan keputusan presiden, dengan mendapatkan pertimbangan dari kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif, kementrian desa, dan Lembaga terkait lainnya.

Baca Juga Asal – usul rawa pening

Dengan mempekerjakan kurang lebih 98 tenaga kerja (diluar UKM) sudah cukup dibayangkan betapa larisnya resto unik ini. Juga gambaran daya serap tenaga kerja. Pekerja dibagi dalam dua shift, yang pertama shift pagi yang masuk pukul 08.00 – 14.00, dan shift berikutnya mulai dari pukul 11.00 – 19.00. Antara pukul 11.00 – 14.00 adalah jam ramai pengunjung karena bertepatan dengan saat makan siang. Banyak sekali, meeting kantor atau perusahaan dilaksanakan di sana sambal makan siang. Pemerintah Kabupaten Semarang dan Salatiga juga sering menggunakan untuk meeting. Itulah sebabnya, pengaturan shift mengkondisikan full support  semua tenaga pelayanan pada jam – jam ramai itu.

Sekitar 60 – 80% Gedung ruang dikondisikan terapung. Antara lain Gedung utama restoran, hall untuk ruang meeting, gazebo, jembatan, tempat pemancingan, dan masih banyak lagi.

Menu lauk makanan, khususnya jenis ikan nila, mujair, dan lele di beli dari kerambah para nelayan rawa pening. Sedangkan ikan kerapu, ikan mas, dan lainnya dibudidayakan sendiri. Demikian pula, beras dan sebagaian besar bahan mentah untuk ramuan bumbu di resto berasal dari petani dan UKM. Sebuah kolaborasi yang saling menguntungkan antara pengusaha, pemerintah, nelayan, dan petanisekitar.

Untuk kuliner tersedia jenis menu dan lauk. Gurami lada hitam, Gurami rica – rica, bandeng kropok, udang, nasi goreng, dan masih banyak lagi. Citarasa yang sangat enak ditawarkan di resto ini. Dengan minuman kelapa muda sangat nikmat sekali, dan masih banyak jenis minuman yang lainnya.

Penyajian yang lepas konteks. Cuaca mendung, hujan dan sebagian resto dengan ekspose alam terbuka tentu saja udara selalu basah diselimuti hawa yang dingin / sejuk.

Panorama dan suasana alamnya yang demikian mempesona melengkapi rasa kenikmatan yang di sajikan. Tempat ini sangat rekomendai bagi Anda untuk dikunjungi, baik bagi yang berpergian Bersama pasangan ataupun Bersama keluarga, karena suasana yang romantis dengan dipadukan dengan suasana pedesaan akan melengkapi wisata kuliner Anda.

Menurut saya yang juga sering kesana hanya sekedar liburan untuk menyantap kuliner Bersama keluarga, tidak ada rasa bosannya tentunya. Karena pemandangan alam yang diselimuti dengan suasana sejuk akan membuat kita nyaman. Apa lagi ketika mengelilingi danau Rawa Pening, tentu menambah pengalaman tersendiri dengan pemandu kapal yang sangat ramah, dan biasanya juga kita akan diceritakan tentang rawa pening. Anda juga dapat melihat keramba ikan yang di budidayakan warga saat mengelilingi danau Rawa Pening. Jadi sangat saya rekomendasikan.

Tinggalkan komentar